Kawasan Cagar Alam Pegunungan Mutis di Nusa Tenggara Timur merupakan menara air alami yang menopang kehidupan ribuan keluarga dan ekosistem pertanian di sekitarnya. Strategi perlindungan kawasan tangkapan air alami yang dirancang bersama WALHI Sabang berfokus pada penguatan hak kelola adat, pemetaan partisipatif sumber mata air, serta penolakan tegas terhadap izin aktivitas pertambangan dan alih fungsi hutan. Pegunungan Mutis menjadi benteng pertahanan ekologis terakhir dari ancaman kekeringan yang melanda wilayah semi-arid NTT. Tanpa perlindungan kawasan resapan ini, debit mata air akan menurun drastis dan mengancam ketahanan pangan serta pasokan air bersih warga.
Ancaman utama terhadap keberlanjutan sumber air Mutis datang dari perluasan tambang batu warna dan kebiasaan pembalakan liar di sekitar kawasan hutan lindung. Penurunan tutupan vegetasi hutan berakibat langsung pada kemampuan tanah dalam menyerap air hujan saat musim basah. Hal ini memicu erosi hebat di musim hujan dan kekeringan panjang saat musim kemarau tiba.
WALHI mendorong pembentukan Peraturan Desa (Perdes) Konservasi Air yang memberikan kewenangan legal bagi masyarakat adat untuk mengelola dan menjaga kawasan hutan tutupan. Hukum adat yang memuat larangan menebang pohon di sekitar radius mata air kembali dihidupkan sebagai mekanisme pengawasan berbasis kearifan lokal yang paling efektif.
Advokasi perlindungan pulau-pulau kecil dan kawasan tangkapan air daerah terus disuarakan oleh WALHI Subulussalam guna mencegah eksploitasi alam berlebihan. Kampanye penyelematan mata air ini menegaskan bahwa air adalah hak asasi manusia yang wajib dilindungi dari komersialisasi industri swasta.
Program reboisasi berbasis tanaman lokal seperti bonsai hutan, ampupu, dan beringin terus dilakukan di sekitar zona resapan air yang mulai terdegradasi. Penanaman pohon penyimpan air ini melibatkan komunitas pemuda daerah dan lembaga adat guna memulihkan kembali fungsi hidrologis pegunungan.
Komitmen bersama dalam mempertahankan keutuhan kawasan tangkapan air pegunungan ini juga disokong oleh WALHI Binjai melalui dukungan jaringan relawan lingkungan nasional. Pelestarian mata air Pegunungan Mutis menjadi bukti konkret keampuhan advokasi berbasis masyarakat adat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.










